DESAIN MATERI PEMBELAJARAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Desain materi pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Sementara itu desain materi pembelajaran sebagai proses adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan. Dengan demikian dapat disimpulkan desain materi pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.
PEMBAHASAHAN
A. Pengertian Desain Materi Pembelajaran
Desain atau perencanaan merupakan suatu proses pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Ely (1979) bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan (Sanjaya, 2015).
Menurut Suryosubroto, materi pelajaran pada hakikatnya adalah isi dari materi pelajaran yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Hal senada dipaparkan Sudjana, bahwa materi atau bahan pelajaran adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Melalui materi pelajaran ini siswa diantarkan kepada tujuan pengajaran. Adapun menurut Sanjaya, materi pembelajaran adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu.
Berdasarkan penjelasan dari beberapa pengertian menurut para ahli diatas maka dapat dipahami bahwa materi pembelajaran adalah isi atau content yang harus dipelajari dan dikuasai siswa. Dalam hal ini isi atau content tersebut diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku (Ananda, 2019).
B. Cara Merancang Materi Pembelajaran
Rencana pembelajaran ini dibuat oleh para guru untuk setiap kali pertemuan atau bisa juga untuk 4 atau 5 kali peremuan sekaligus. Dalam mendesain pembelajaran ada beberapa unsur yang terpenting yaitu:
Tujuan Instruksional
Bahan Pengajaran
Kegiatan Belajar
Metode dan Alat Bantu Mengajar
Evaluasi Penilain.
Tahap-tahap yang harus ditempuh oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran adalah:
a. Tahap Pra Instruksional, yaitu tahap yang ditempuh pada saat memulai proses pembelajaran adalah:
· Menanyakan kehadiran siswa.
· Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasai.
· Mengajukkan pertanyaan mengenai pelajaran yang telah dibahas. d) Mengulang pelajaran secara singkat, tapi mencakup semua bahan.
b. Tahap Instruksional yaitu tahap pemberian bahan pelajaran meliputi:
· Menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. b. Menjelaskan pokok materi yang akan dibahas.
· Membahas pokok materi yang telah dituliskan.
· Memberikan contoh konkrit pada setiap pokok materi yang telah dibahas.
· Menggunakan media untuk mempermudah pemahaman siswa.
· Menyimpulkan hasil bahasan.
c. Tahap Evaluasi, ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan tahap Instruksional diantaranya:
· Mengajukkan pertanyaan kepada beberapa siswa mengenai materi pelajaran yang telah dipelajari.
· Akhiri pelajaran dengan memberitahukan materi yang akan dibahas berikutya.
· Memberi tugas atau PR kepada siswa untuk memperkaya pengetahuan siswa mengenai yang telah dibahas.
· Bila pertanyaan yang diajukkan belum dapat dijawab oleh siswa (kurang dari 70%) maka guru harus mengulang pelajaran.
Setelah tahap perencanaan, hal yang dilkukan seorang guru adalah mengembangkan dan memilih materi pembelajaran. Dalam tahap ini Dick and Carey (1985) menyarakan ada tiga pola yang dapat diikuti oleh pengajar untuk merancang atau menyampaikan pembelajaran, yaitu (Uno, 2009).
a. Pengajar merancang bahan pembelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukan kedalam bahan, kecuali pra tes dan pasca tes.
b. Pengajar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran. Peran pengajar akan bertambah dalam penyampaian pembelajaran. Beberapa bahan mungkin saja disampaikan tnpa bantuan pengajar, jika tidak ada, maka pengajar harus memberi penjelasan.
c. Pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut strategi pembelajarannya yang telah disusunnya. Pengajar menggunakan strategi pembelajarannya sebagai pedoman, termasuk latihan dan kegiatan kelompok.
d. Kebaikan dari strategi ini adalah pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbarui pembelajran apabila terjadi perubahan isi. Sedangkan kerugiannya adalah sebagian besar waktu tersita untuk menyampaikan informasi sehingga sedikit sekali waktu untuk membantu peserta didik. Kemudian, dalam rangka menetapkan materi pembelajaran perlu ada kriteria yang harus diperhatikan pengajar. Menurut Sudjana sebagaimana yang dikutip Ananda, bahwa hal-hal yang diperhatikan dalam menetapkan materi pembelajaran sebagai berikut (Ananda, 2019)
1. Materi pembelajaran harus sesuai dengan menunjang tercapainya tujuan.
2. Materi pembelajaran yang ditulis dalam perencanaan pengajaran terbatas pada konsep atau berbentuk garis besar bahan, tidak perlu diuraikan terinci.
3. Menetapkan bahan pengajaran harus sesuai dengan urutan tujuan. Artinya bahan yang ditulis pertama bersumber dari tujuan yang pertama, bahan yang ditulis kedua, bersumber dari tujuan yang kedua dan seterusnya. Bila untuk satu tujuan dimungkinkan adanya beberapa bahan, maka penetapan bahan dipecah menjadi sub-sub bahan, tetapi ada dalam satu konsep bahan.
4. Materi pembelajaran disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstrak sehingga siswa mudah memahaminya.
5. Sifat materi pembelajaran yang ada faktual ada yang konseptual. Materi pembelajaran faktual sifatnya konkret dan mudah diingat. sedangkan bahan sifatnya konseptual berisikan konsep-konsep abstrak dan memerlukan pemahaman. Mempelajari bahan faktual lebih mudah daripada bahan yang bersifat konseptual.
C. Cara Mendesain Materi Pembelajaran
Sebelum mendesain materi pembelajaran, kita harus mengetahui beberapa kriteria pemilihan materi pelajaran yang akan disusun dalam sistem pembelajaran. Kriteria dalam pemilihan materi pelajaran diantaranya adalah (Harjanto (1997)
a) Kriteria tujuan pembelajaran
1. Materi pelajaran terpilih harus mencapai tujuan pembelajaran baik secara khusus atau tujuan tingkah laku.
2. Penjabaran materi pelajaran Setiap tujuan pembelajaran yang dirumuskan harus spesifik, dapat diamati dan terukur agar materi pelajaran dapat dirumuskan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
3. Relevan dengan kebutuhan siswa
4. Setiap materi pelajaran harus disusun sesuai dengan tujuan untuk mengembangkan pribadi siswa secara bulat dan utuh. Beberapa aspek yang menunjang perkembangan potensi siswa diantaranya adalah pengetahuan sikap, nilai, dan keterampilan.
5. Sesuai dengan kondisi masyarakat Materi pelajaran yang akan dipilih hendaknya mampu memberikan pengalaman edukatif yang bermakna bagi perkembangan peserta didik untuk menjadi masyarakat yang berguna dan hidup mandiri.
6. Materi pelajaran mengandung segi-segi etik Materi pelajaran juga harus bertujuan untuk mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang etik sesuai dengan nilai dan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.
7. Materi pelajaran tersusun dengan sistematik dan logis
8. Materi pelajaran disusun secara berurutan dengan mempertimangkan faktor psikologis siswa agar materi pelajaran dapat mudah diserap oleh siswa.
9. Materi pelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru
10. yang ahli dibidangnya dan masyarakat Ketiga komponen ini perlu diperhatikan dalam memilih materi pelajaran. Tanpa guru ahli, buku sumber yang baku tidak diterbitkan dan tidak terwujud materi pelajaran. Masyarakat merupakan sumber yang luas dan dapat dikatakan sebagai materi belajar yang paling besar.
a. Mendesain materi secara naratif dan linier
Dengan menggunakan bentuk naratif dan linier, maka dalam kegiatan belajar mengajar harus sesuai dengan urutan atau skuensi topik bahasan. Contoh: Matakuliah Penelitian Sastra
Bobot : 2 (dua) sks
1. Sejarah Perkembangan Penelitian Sastra 2. Paradigma Penelitian Sastra
3. Pendekatan. Teori, Metodologi. Metode dan Tekhnik
4. Teori Penelitian Sastra I: Teori Strukturalisme I
5. Teori Penelitian Sastra II Teori Strukturalisme II
6. Teori Penelitian Sastra III Teori Strukturalisme
7. Teori Penelitian Sastra IV Teori Strukturalisme
8. Teori penelitian sastra V teori
b. Mendesain materi menggunakan peta konsep Peta konsep adalah tampilan dari sebuah gambar atau bagan tentang konsep-konsep materi yang tersusun sesuai dengan tabiat ilmu pengetahuan itu tanpa mengindahkan urutan atau skuensi topik bahasan yang diinginkan.
Langkah-langkah membuat peta konsep adalah sebagai berikut:
1. Brainstorming atau curah gagasan Menuangkan segala topik atau konsep yang berkaitan dengan materi pelajaran dengan leluasa. Dari beberapa konsep itu dikelompokkan secara besar lagi..
2. Menulis dan menyusun konsep-konsep dalam satu bentuk gambar
3. Menghubungkan antar konsep dengan garis
4. Memberi label diatas garis panah
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut, bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. materi pelajaran pada hakikatnya adalah isi dari materi pelajaran yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakan.
Dan cara merancang materi pembelajaran yang ingin dibuat oleh para guru untuk setiap kali pertemuan atau bisa juga untuk 4 atau 5 kali peremuan sekaligus. Dalam mendesain pembelajaran maka harus ada beberapa unsur yang terpenting yaitu:
1. Tujuan Instruksional
2. Bahan Pengajaran
3. Kegiatan Belajar
4. Metode dan Alat Bantu Mengajar
5. Evaluasi Penilain.
Saran
Dalam hal ini penulis menyadari banyak sekali kekurangan dalam makalah ini, jauh dari kata sempurna. maka dari itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun mengenai pembahasan makalah diatas.
DAFTAR PUSTAKA
Ananda, Rusydi. (2019). Perencanaan Pembelajaran. Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia.
Sanjaya, Wina. (2015). Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:
Kencana. Uno, Hamzah B. (2009). Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar: