Artikel - sejarah - gambar lucu- tips dan trik - kata motivasi - download software

 *CARA MENGKHATAMKAN AL-QUR'AN YANG DIAJARKAN MALAIKAT JIBRIL KEPADA RASULULLAH SAW*


Di luar bulan Ramadlan Malaikat Jibril biasanya mendatangi Rasulullah SAW untuk menyampaikan wahyu. Tapi khusus pada bulan Ramadlan, Jibril datang setiap malam untuk mengajarkan cara membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an yang harus diselesaikan pada setiap malam. 


Jibril membacakan Al-Qur'an, lalu Rasul mengikuti bacaan Jibril, kemudian Jibril menjelaskan maknanya:


اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰ نَهٗ 


"Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya."


فَاِ ذَا قَرَأْنٰهُ فَا تَّبِعْ قُرْاٰ نَهٗ

 

"Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu."


ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَا نَهٗ

 

"Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya."

(QS. Al-Qiyamah/75: 17-19).


Sebagaimana diketahui, cetakan Al-Qur'an di seluruh dunia saat ini dibagi ke dalam 30 Juz yang menekankan pada pemerataan relatif pada setiap Juz. Akibatnya, terjadi pemenggalan pada sebagian Surat dalam Al-Qur'an.


Pembagian Al-Qur'an menjadi 30 Juz sebagaimana yang kita kenal saat ini, bukan merupakan arahan dari Rasulullah SAW atau dari Malaikat Jibril. Pembagian ini juga tidak dikenal pada generasi sahabat dan pada mulanya tidak dikenal di Madinah. 


Pembagian Al-Qur'an pada masa sahabat yang terkenal adalah: Bagian pertama, tiga surat pertama setelah Al-Fatihah (Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa). Bagian kedua, 5 surat berikutnya. Bagian ketiga, 7 surat berikutnya. Bagian keempat 9 surat berikutnya. Bagian kelima 11 surat berikutnya. Bagian keenam 13 surat berikutnya. Bagian ketujuh surat berikut sisanya mulai surat Qaf sampai surat An-Nas. 


Pembagian menjadi tujuh bagian ini untuk memudahkan para sahabat mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu. 


Kapan dan siapa yang membagi Al-Qur'an menjadi 30 Juz seperti yang kita kenal sekarang? 


Para ulama menyebutkan bahwa pembagian mushaf Al-Qur'an menjadi 30 Juz adalah para cendekiawan Irak atas perintah Al-Hajaj bin Yusuf. 


Pembagian juz versi Al-Hajjaj ini berbeda dengan pembagian juz yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW.


Malaikat Jibril mengajarkan kepada Rasulullah cara pembacaan yang harus diselesaikan setiap malam di bulan Ramadhan hingga khatam pada malam terakhir bulan Ramadhan. 


Hal ini dengan jelas dinyatakan dalam Al-Qur'an: "ketika Kami membacakannya, engkau harus mengikuti pembacaan itu" (QS. Al-Qiyamah: 18).


Bagaimana cara pembacaan Al-Qur'an yang diajarkan Jibril kepada Rasulullah SAW itu? 


Belum pernah ada yang mencoba menjawab pertanyaan penting ini, sehingga subjek ini tetap terpendam sebagai misteri selama lebih dari 1400 tahun, sampai datang Syekh Imran dengan bukunya (dalam versi Bahasa Indonesia) berjudul:

"AL-QUR'AN DAN BINTANG Metodologi Ilahi dalam Mengkhatamkan Al-Qur'an di Setiap Bulan." Alih Bahasa: Abdurrahman Sumin. Eskatopedia, Nopember 2020. (Sudah tersedia di toko online). Buku asli dapat diperoleh di:

www.imranhosein.com


Upaya Syekh Imran dalam memahami Surat Al-Qiyamah Ayat 17-19 yang merupakan landasan bagi metodologi yang ditawarkannya, tidak terlepas dari sosok Al-Hajjaj bin Yusuf (661-714 M) yang pelik dan kontroversial dalam sejarah Islam. Dengan pembagian 30 Juz Al-Qur'an versinya, secara tidak langsung telah merubah cara dan sistem waktu dalam mengkhatamkan pembacaan Al-Qur'an. 


Dunia Islam pada umumnya menerima pembagian Juz Al-Hajjaj dan menjadikannya sebagai patokan dalam cara mengkhatamkan Al-Qur'an, yang tidak ada hubungannya dengan sistem waktu bulan. Sementara Malaikat Jibril mengajarkan kepada Rasulullah SAW pada setiap malam di bulan Ramadlan dengan menggunakan sistem waktu bulan. 


Bulan Ramadlan disebut pula _Syahrul Qur'an_ atau Bulan Al-Qur'an, untuk menunjukkan hubungan yang sangat erat antara Bulan Ramadlan dengan Al-Qur'an. 


Hubungan erat antara Ramadlan dengan Al-Qur'an, mengimplikasikan cara membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an harus mengikuti sistem waktu bulan, yang telah ditetapkan Allah dalam siklus kehidupan di bumi (QS. Yunus: 5), sehingga tidak boleh terlepas dari hierarki sistem waktu dalam Islam.


Pelanggaran atas ritme sistem waktu bulan akan mempengaruhi ritme dan detak jantung, karena tidak selaras dengan hierarki Sistem Ruang dan Waktu Ilahi. Akibatnya, berjalannya waktu akan terasa semakin lama semakin cepat berlalu. Cara memulihkannya adalah dengan membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an harus mengikuti metodologi sistem waktu bulan. 


Pembagian Juz versi Al-Hajjaj itu mengandung sejumlah kelemahan sebagai berikut:


Pertama, pembagian Juz itu memotong Surat. Misalnya Surat Al-Baqarah dipenggal dua kali. Demikian juga Surat-surat berikutnya dipenggal oleh pembagian Juz versi Al-Hajjaj.


Padahal Allah sudah menetapkan bahwa dinding pemisah dalam Al-Qur'an adalah Surat bukan Ayat (QS. Al-Isra: 106) 1),  dan kita dilarang untuk membuat dinding pemisah lain selain Surat. 2)


Kedua, pembagian Juz seperti itu tidak sesuai dengan yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Rasulullah pada setiap malam di bulan Ramadlan. 


Ketiga, cara membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an yang demikian, sama sekali terlepas dari sistem waktu bulan/lunar.


Keempat, sebagai akibat dari yang pertama sampai ketiga, waktu akan dirasakan berjalan semakin cepat, karena jantung kita tidak berdetak secara harmonis dengan  ciptaan Allah yang lain, terutama dengan sistem waktu yang telah Allah tetapkan dalam siklus kehidupan bumi (QS. Yunus: 5) yang tidak terpisahkan dari Sistem Ruang Waktu Kosmik dan Absolut. 


Kelima, Syekh Imran menyimpulkan, bahwa semua itu terjadi bukan secara kebetulan, tapi karena Dajjal telah menyerang sistem waktu.


Itu sebabnya, metode pembacaan Al-Qur'an harus dikembalikan kepada sistem waktu bulan. 


Sebuah terobosan ijtihad yang sangat fenomenal sebenarnya, karena dengan demikian berarti membatalkan pembagian Al-Qur'an menjadi 30 Juz versi Al-Hajjaj yang telah belasan abad diterima secara luas di dunia Islam. 


Selain itu, metode yang tepat dalam pembacaan Al-Qur'an menjadi sangat penting, oleh karena membaca Al-Qur'an merupakan prasyarat mutlak untuk mengkaji Al-Qur'an. Kita tidak bisa mengkaji Al-Qur'an, kecuali membacanya dengan cara yang tepat terlebih dahulu. 


Itulah sebabnya para ulama salaf selalu menggunakan Bulan Ramadlan sebagai bulan khusus untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an.


*Kesimpulan*


Dengan metode mengkhatamkan pembacaan Al-Qur'an yang mengikuti siklus bulan (Metode Lunar), sekaligus melatih dan membiasakan kita untuk hidup bersama bulan. Ketika hidup bersama bulan, maka kita akan merasakan keharmonisan dengan alam, sehingga akan memberikan ketenangan dan ketentraman di dalam hati, kemudian kita akan menikmati setiap detik perjalanan waktu. 


Ini adalah pendahuluan yang penting, bahwa kita tidak bisa mempelajari Al-Qur'an sebelum membacanya. Dan ketika membaca Al-Qur'an, maka kita harus membacanya dengan cara sebagaimana Allah mengajarkannya kepada Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril.


Kita harus menyelesaikan bacaan satu Juz setiap hari dalam hitungan bulan. Dan yang dimaksud Juz adalah pembagian Juz sesuai dengan yang diajarkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, bukan pembagian Juz versi Al-Hajjaj.


Catatan Kaki:


1) Allah SWT Berfirman dalam Surat Al-Isra/17: 106).


وَقُرْاٰ نًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَ هٗ عَلَى النَّا سِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا


"Dan Al-Qur'an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap."

(Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com). 


Bandingkan dengan pemahaman Syekh Imran atas Ayat ini yang dijadikan landasan larangan memotong Surat dalam Al-Qur'an (Syekh Imran berpendapat bahwa Al-Qur'an tidak bisa diterjemahkan, tapi  bisa dijelaskan berdasarkan pemahaman tertentu).


"Ini adalah Qur'an yang telah Kami bagi menjadi beberapa bagian, yakni sebagai Suwar (bentuk jamak dari Surah). Kami menjadikannya demikian agar engkau dapat membacakannya kepada manusia dalam jangka waktu, dan selaras dengan pembagian Suwar tersebut. Kami juga lah yang menurunkannya sebagian demi sebagian."

(Imran N. Hosein, _Al-Qur'an dan Bulan"_, 2020: viii-ix).


2) Larangan memotong Surat hanya berlaku untuk tujuan pembacaan Al-Qur'an harian guna mengkhatamkannya dalam satu bulan lunar. Tidak berlaku untuk tujuan lainnya, misalnya untuk bacaan dalam Shalat atau untuk tujuan mengajarkan  bacaan atau kajian isi Al-Qur'an.


الله اعلم


MS 11/01/24

Admin Januari 12, 2024
Read more ...

 *Catatkan Namamu dalam Panggung Sejarah!‎*


Oleh : Didi Junaedi 


Jangan sampai nama kita hanya tercatat di batu nisan saja setelah kita ‎meninggal dunia nanti. Ini serius!‎


Apa gunanya kita hidup berpuluh-puluh tahun di dunia ini, jika ada ‎dan tidanya kita sama saja (wujuduhu ka ‘adamihi). Apa perlunya kita hidup ‎berlama-lama di muka bumi ini, kalau cuma sekadar menambah penuh dan ‎sesak bumi yang sudah sangat padat penduduk ini. Untuk apa kita hadir ke ‎alam ini, kalau tidak ada manfaat apa pun yang dapat kita berikan kepada ‎sesama, kepada alam, kepada makhluk Allah yang ada di jagat raya ini. Buat ‎apa kita ada di di bawah kolong langit ini dalam rentang waktu yang lama, jika ‎tidak ada kontribusi sedikit pun yang dapat kita berikan sebagai investasi ‎akhirat kita kelak.‎


Tuhan yang Mahahebat, Tuhan yang Mahaluarbiasa, tidak mungkin ‎menciptakan makhluk-Nya biasa-biasa saja. Tuhan yang Mahasempurna, tidak ‎mungkin menciptakan makhluk-Nya asal-asalan. “Sucikanlah nama Tuhanmu ‎yang Maha Tinggi, yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-‎Nya).” Demikian bunyi salah satu firman-Nya. Dalam firman-Nya yang lain ‎disebutkan, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu ‎dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.”‎


Dari beberapa keterangan tersebut, jelaslah bahwa kita semua, umat ‎manusia, yang merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya, adalah makhluk ‎yang diciptakan dengan sempurna, lengkap dengan segala kemampuan yang ‎melekat dalam diri kita.‎


Jika sudah jelas bahwa Tuhan yang Mahasempurna menciptakan ‎makhluk-Nya dengan sempurna, mengapa kemudian sebagian besar manusia ‎tidak memaksimalkan kesempurnaan yang telah Tuhan berikan? Sebagian ‎besar kita merasa bahwa kita adalah makhluk biasa tanpa kelebihan apa pun ‎yang kita miliki.‎


Hal ini terbukti dengan banyaknya jumlah orang-orang gagal ‎dibandingkan dengan jumlah orang-orang sukses. Lebih banyak para ‎pecundang daripada para pemenang. Lebih banyak orang miskin daripada ‎orang-orang kaya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, jauh lebih banyak ‎orang yang meninggal tanpa memberi makna sedikit pun kepada orang-orang ‎yang ditinggalkannya, sehingga namanya terkubur bersama jasadnya, ‎dibandingkan orang-orang yang mampu memberi warisan nilai-nilai kebaikan, ‎sehingga namanya dicatat dalam panggung sejarah kehidupan, dan terus ‎dikenang meski jasadnya sudah berkalang tanah ratusan bahkan ribuan tahun ‎lamanya.‎


So, pelajaran yang dapat kita petik dari kenyataan ini adalah, ‎mumpung masih diberi umur, mumpung jasad belum terbujur, mumpung ‎masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini, lakukan aktivitas terbaik ‎setiap saat, setiap waktu. Berikan kontribusi kepada sesama, tanamkan nilai-‎nilai kebaikan kepada orang lain di sekeliling kita, ciptakan karya yang akan ‎mengabadikan nama kita, tidak hanya di dunia ini, tetapi di akhirat nanti. ‎Bekerjalah dengan penuh semangat. Niatkan berkhidmat kepada manusia ‎untuk meraih ridla Tuhan. Jangan sia-siakan sedetik pun kehidupan kita untuk ‎hal yang tidak berguna. Maksimalkan potensi yang kita miliki. Manfaatkan ‎waktu sebaik-baiknya.‎


Jika seluruh aset yang kita miliki, berupa potensi, materi, serta ilmu ‎pengetahuan kita khidmatkan untuk kemanusiaan, niscaya pada saatnya ‎nanti kita akan menuai nilai-nilai kebaikan dari apa yang sudah kita lakukan ‎selama ini.‎


Harta kita yang sudah berwujud fisik bangunan tempat ibadah, ‎lembaga pendidikan, ataupun yayasan sosial akan menjadi monumen hidup ‎kita, setelah kita wafat nanti.‎


Ilmu pengetahuan yang kita miliki dan sudah tertuang dalam sejumlah ‎karya berupa buku akan menjadi warisan intelektual yang sangat berharga ‎bagi generasi setelah kita.‎


Sejumlah warisan kebaikan tersebut ibarat benih yang kita tanam di ‎dunia, dan akan kita tuai panen raya kebaikan tidak saja ketika kita masih ada ‎di dunia ini, tetapi juga kelak ketika kita sudah ada di akhirat. Nama kita akan ‎dikenang sepanjang masa karena nilai-nilai kebaikan yang telah kita tanam. ‎Karya-karya kita akan terus dinikmati dan memberi manfaat kepada orang ‎lain, serta menjadi ladang pahala bagi kita, meski raga kita telah berkalang ‎tanah.‎


Inilah kebahagiaan tertinggi bagi seorang anak manusia. Meski ‎umurnya di dunia hanya berbilang puluhan tahun, tetapi usianya tak pernah ‎lekang dimakan zaman dan tak pernah lapuk ditelan waktu.‎


So, catatkan namamu dalam panggung sejarah!‎



* Ruang Inspirasi, Kamis, 11 Januari 2024.

Admin Januari 12, 2024
Read more ...

 *MANHAJ SALAF*


*TAHAJUDCALL*


*بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم*


*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه*


✿❁་•༚༚•་✿◉❖👑❖◉✿་•༚༚•་❁✿

*AIR MATA BUKTI KEIMANAN*

✿❁་•༚༚•་✿◉❖👑❖◉✿་•༚༚•་❁✿

Ustadzkhalidbasalamah


💎 Gemetarnya hati seorang Muslim, merupakan bentuk rasa haru yang sangat luar biasa. 


 💎 Ia mendorong jatuhnya air mata seorang Muslim karena rasa takut kepada Allah. 


💧Dan tangisan itu bukanlah bentuk kelemahan, namun justru melembutkan hati. 


💧Ini merupakan bukti keimanan yang tidak bisa di rekayasa. 


💧Selain itu, air mata tersebut juga menjadi penghalan bagi seorang Muslim dari panasnya neraka jahannam. 


💟 Rasulullah ﷺ pernah bersabda,


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِي خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ » 


“Tidak ada sesuatu yang lebih Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai dari dua tetesan serta dua bekas. 

Tetesan air mata dikarenakan takut kepada –Nya dan tetesan darah yang mengalir di jalan Allah. 

Adapun dua bekas itu, bekas yang ditinggalkan dijalan Allah, dan bekas kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah“.  

*(HR at-Tirmidzi no: 1669, HR. At Tabrani 7918)*


💧Seringnya air mata tersebut mengalir, menjadikan hati seorang Muslim menjadi sangat lembut dan mudah menerima nasehat. 


💧Dan puncak dari seringnya seorang mukmin meneteskan air matanya tersebut adalah mereka akan merasakan manisnya iman. 


Allahu Ta’ala A’lam bishawab


 Demikian semoga bermanfaat


💟 Hanya Alloh yang memberi Taufik & hidayah untuk berbuat kebajikan.


🤲 Yang Selalu Mengharap Ampunan Dari ROBBnya.


*Barokalloh fiikum*


*MetMunajad*

*Istighfar*

*Zikir*

*Sholawat*

*Tilawah*

*Sahur*


✿❁་•༚༚•་✿◉❖👑❖◉✿་•༚༚•་❁✿

Admin Januari 12, 2024
Read more ...

 *SUNNAH STRATEGIS, DA'WAH TERBAIK DI AKHIR ZAMAN*


Sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, tabiat, budi pekerti atau perjalanan hidupnya, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya. 


Sedangkan Hadits terbatas pada perkataan, perbuatan dan ketetapan yang bersumber pada Nabi SAW (setelah beliau diangkat sebagai Rasul). 


Selain Sunnah dan Hadits, terdapat dua istilah lain dalam Ilmu Hadits, yaitu khabar dan atsar. Sebagian Ulama Hadits berpendapat bahwa khabar adalah suatu yang berasal atau disandarkan kepada selain Nabi SAW. 


Adapun atsar menurut jumhur (mayoritas) Ulama, sama artinya dengan khabar dan Hadits. Ada juga Ulama yang berpendapat bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan pada Nabi, sahabat dan tabi'in.


Memelihara janggut adalah Sunnah. Ini adalah sebuah kebijaksanaan. Bukan kebetulan Allah SWT meletakkan janggut pada dagu kaum lelaki, yaitu agar dari kejauhan orang bisa membedakan antara laki-laki dan perempuan, sehingga tidak perlu melihat bagian tubuh lainnya.


Pakaian yang kita gunakan adalah Sunnah, yang dirancang agar sesuai dengan norma kesopanan tertentu. Sunnah adalah juga apa yang kita makan dan bagaimana cara kita makan. 


Tetapi Sunnah bukan hanya itu, Sunnah juga termasuk menyadari dunia tempat kita tinggal, mengenali lingkungan strategis dunia dimana kita tinggali saat ini. Karena itu termasuk Sunnah adalah keharusan untuk terlibat dalam perjuangan kebenaran melawan kepalsuan. 


Dinamika lingkungan strategis dunia selalu berpusat pada persaingan antara kebenaran dan kepalsuan. Bagaimana menyikapi lingkungan strategis dunia adalah juga Sunnah.


Sunnah strategis ini adalah subjek baru, karena belum pernah ada yang mengajarkan topik ini sebelumnya. Apalagi bagaimana menerapkan Sunnah strategis ini pada momen kritis dunia dimana kita hidup sekarang, sama sekali belum pernah ada yang menjamah. Untuk ini, yang dibutuhkan bukan saja pemikiran kritis, tetapi juga intuitif. 


Dalam perjuangan kebenaran berhadapan dengan kepalsuan, antara keadilan dan ketidakadilan, Nabi Muhammad SAW diserang oleh kaum Quresy dan kekuatan-kekuatan penindas, kedzaliman, kepalsuan dan para penyembah berhala.


Apa yang dilakukan Rasulullah SAW menghadapi kekuatan-kekuatan penindas itu? Apakah beliau berkompromi dengan kepalsuan demi kenyamanan dan mempertahankan status -quo, atau beliau tetap berpegang pada kebenaran terlepas dari apa pun konsekwensinya?


Faktanya, kita tahu bahwa beliau dan para Sahabatnya kemudian harus meninggalkan Mekah untuk berhijrah ke Madinah, karena kebenaran tidak mungkin bisa bercampur dengan kepalsuan.


Ketika sudah tidak ada lagi ruang untuk menyatakan kebenaran, maka hijrah adalah keputusan terbaik yang diambil Rasulullah SAW.


Namun bahkan setelah beliau dan para Sahabat hijrah, pertarungan belum berakhir. Mereka terus mengejar Rasulullah SAW, sehingga terjadilah Perang Badar, yang dimenangkan oleh pasukan Islam; suatu kekalahan yang memalukan bagi mereka, seperti kekalahan memalukan yang mereka alami di Afghanistan.


Mereka tentu tidak bisa menerima kekalahan memalukan di Perang Badar itu, dan ingin membalasnya. Maka, terjadilah Perang Uhud. Mereka menang di Uhud, namun tidak bisa menghancurkan kekuatan Islam.


Lalu mereka datang kembali dua tahun kemudian dengan aliansi militer terbesar. Kali ini mereka datang untuk menghabisi kekuatan Islam, tapi mereka gagal dan harus melipat tenda mereka untuk pulang.


Jadi sekarang terdapat pertemuan basis militer. Apa yang akan terjadi? 


Saat mereka berada di Khandaq untuk mengejar pasukan Muslim, pasukan Islam memiliki aliansi dengan beberapa kabilah Arab pagan dan kaum Yahudi, yang kemudian melahirkan Piagam Madinah, dimana terdapat perjanjian dengan kewajiban tertentu, bahwa seluruh pihak yang terikat dengan perjanjian ini tidak boleh mendukung musuh dari sesama anggota perjanjian ini.


Tapi kemudian orang Yahudi melanggar perjanjian ini. Segera setelah Perang Khandaq gagal, dan aliansi dengan Yahudi dan Quresy telah ditarik, Rasulullah lalu mengambil tindakan terhadap Bani Qaynuqa dan Bani Quraizah (dua kelompok Quresy yang sebelumnya beraliansi dengan Rasulullah dalam Perang Khandaq). 


Orang-orang Yahudi kemudian melarikan diri dari Khandaq, dan dengan demikian mereka kehilangan harta benda mereka di Madinah. Mereka marah dan frustasi, mereka menginginkan darah, mereka ingin balas dendam, mereka ingin berperang lagi. Lalu mereka membangun markas di Khaibar.


Di sisi lain, orang Quresy di Selatan juga sangat frustasi, karena mereka telah mengerahkan semua kekuatan yang mereka miliki dalam menghadapi pasukan Rasulullah, namun tidak pernah berhasil.


Seandainya Rasulullah SAW duduk saja di Madinah dan tidak melakukan apa pun, seperti hari ini kita duduk-duduk saja di tengah kondisi dunia yang kritis, apa konsekwensinya?


Jawabannya, Khaibar dan kaum Quresy Mekah akan beralinasi untuk bersatu melawan pasukan Rasulullah SAW. Khaibar di Barat Laut dan Mekah di Selatan (dari Madinah), dan Rasulullah akan terjepit. 


Nabi Muhammad SAW memahami kondisi lingkungan strategis dimana umat Islam berada, Rasul memahami bahwa kita tidak bisa duduk-duduk dan tidak melakukan apa pun. 


Apa yang dilakukan Rasulullah adalah mengambil inisiatif untuk mengubah lingkungan strategis ini agar lebih menguntungkan bagi perjuangannya. 


Seandainya Rasulullah tidak mengambil inisiatif yang kemudian melahirkan Perjanjian Hudaibiyah, sangat mungkin sampai hari ini Mekah belum bisa dibebaskan. 


Inilah sisi Sirah Nabawiyah yang selama ini masih tersembunyi (atau disembunyikan) tentang Perjanjian Hudaibiyah. 


Di balik Perjanjian Hudaibiyah ini terletak visi kejeniusan Rasulullah SAW yang tampak pada langkah diplomasinya yang brillian dalam menghadapi dua kekuatan musuh yang utama waktu itu yaitu kaum Yahudi Madinah dan kaum Quresy Mekah.


Apa yang beliau SAW lakukan, sebenarnya adalah petunjuk langsung dari Allah SWT yang juga berlaku sepanjang masa, termasuk bagi kita yang saat ini berada di ambang krisis global multidimensi.


Eskatologi Islam hadir untuk menghidupkan kembali Sunnah Strategis yang hampir hilang ini. Hadir untuk memberikan tuntunan kepada umat ini bagaimana merespon secara proporsional atas fitnah penindasan dan kediktatoran global dalam berbagai aspek kehidupan.


Untuk dapat berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu, Eskatologi Islam berusaha memenuhi ketiga fungsi ilmu, yaitu: deskripsi, prediksi dan antisipasi fenomena akhir zaman.


Sumber: Syekh Imran, "Sunnah Strategis di Penghujung Zaman".

https://youtu.be/2wQ93zXd158?si=-L6uq5-DW_hOR1qp


الله اعلم


MS 10/01/24.

Admin Januari 12, 2024
Read more ...